كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَوْ ءَامَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ مِنْهُمُ Perpuse Peparing hadirkan artikel-artikel faktual sebagai counter attack atas maraknya propaganda murahan yang salah kaprah akan islam dimedia-media online oleh firqoh-firqoh minoritas sempalan yang dapat memecah belah ummat islam seperti wahabi, syiah dan semacamnya juga sebagai media share demi kelestarian nilai-nilai ajaran Ahlussunnah Wal Jama'ah yang asli dan murni di belahan bumi manapun Terima kasih atas kunjungan anda semoga isi dari blog saya yang sederhana ini semoga dapat bermanfaat untuk merekatkan ukhuwah islamiyah dan jangan lupa kembali lagi yah

Sabtu, 08 Oktober 2011

Allah menuntut kita untuk mencari ilmu dengan sanad

Begitu banyak aliran dan sekte dalam Islam sebagaimana kita telah ketahui Khobar dari Nabi Saw tentang pecahnya umat muslim menjadi 73 golongan dan kesmuanya sesat kecuali satu golongan yaitu Ahlus sunnah waljama’ah.

Nabi Saw bersabda :

عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : افترقت اليهود على إحدى وسبعين فرقة ، وتفرقت النصارى الى إثنين وسبعين فرقة ، وتفرقت أمتي على ثلاث وسبعين فرقة ، كلها في النار الاّ واحدة ، قالوا : ومن هم يا رسول الله ؟ قال : هم الذي على الذي أنا عليه وأصحابي . رواه أبو داود والترميذي وابن ماجه

“Dari Abi Hurairah r.a., Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda : Umat Yahudi terpecah menjadi 71 golongan. Dan umat Nasrani terpecah menjadi 72 golongan. Dan umatku akan terpecah menjadi 73 golongan. Semua masuk neraka kecuali satu. Berkata para sahabat : “Siapakah mereka wahai Rasulullah?’’ Rasulullah SAW menjawab : “Mereka adalah yang mengikuti aku dan para sahabatku.”. HR. Abu Dawud, Turmudzi, dan Ibnu Majah.

Dalam hadits yang lain :

افْتَرَقَتِ الْيَهُوْدُ عَلَى إِحْدَى وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً وَافْتَرَقَتِ النَّصَارَى عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً وَإِنَّ أُمَّتِيْ سَتَفْتَرِقُ عَلَى ثَلاَثِ وَسَبْعِيْنَ
فِرْقَةً كُلُّهَا فِي النَّارِ إِلاَّ وَاحِدَةً وَهِيَ الْجَمَاعَةُ
“Telah terpecah orang–orang Yahudi menjadi tujuh puluh satu firqoh (golongan) dan telah terpecah orang-orang Nashoro menjadi tujuh puluh dua firqoh dan sesungguhnya umatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga firqoh semuanya dalam neraka kecuali satu dan ia adalah Al- Jama’ah”. (H.R. Abu Dawud)

=====================================================

Kali ini saya tidak membahas tentang golongan selamat / Al-Firqah Najiah tersebut, namun saya akan sedikit membahas tentang pentingnya Sanad karena ini sangat terkait sekali dengan eksitensi Al-Firqah Najiah tersebut.
Salah satu keitimewaan Islam di antaranya adalah terjaganya keorisinilan Al-Quran dengan melalui periwayatan yang sambung menyambung hingga ke Rasulullah Saw. Dari sejak masa Nabi Saw, hingga terus dari masa ke masa, ayat-ayat Al-Quran terus di bawa oleh para huffadznya yang memiliki sifat ‘adalah (jujur, terpercaya, kuat hafalan dan tak pernah melakukan dosa besar) dan mencapai derajat mutawatit dan tak ada jedah atau masa terputusnya.
Dan ini sudah janji Allah Swt dalam Al-Quran :

“ Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Adz-Dzikr (Al-Qur'an), dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (QS. Al Hijr [15]:9)

Sangat berbeda dengan kitab-kitab lainnya contohnya kitab Injil, dari sejak masa Nabi Isa As hingga saat ini, kitab Injil pernah mengalami masa vakum (jedah waktu) sampai seratus tahun, sehingga banyak kemungkinan di dalam masa terhentinya periwayatan tersebut ada tindakan tahrif atau distorsi sebagaimana Allah sendiri telah menyinggunya dalam Al-Quran :

“Mereka (Ahli Kitab) suka mengubah kalimat-kalimat Allah daripada tempat-tempatnya dan mereka itu (sengaja) melupakan perkara-perkara yang telah diperingatkan (dinasihatkan) kepada mereka…” (Qs. Al-Ma’idah 13)

Demikian juga Hadits-hadits Nabi Saw, di dalam menjaga kemurnian dan keotientikannya, maka disyaratkan memiliki persyaratan-persyaratan yang kuat yang tidak mungkin terjadinya distorsi atau pemalsuan di antaranya sanad yang bersambung periwayatnnya kepada Nabi Saw. Sebagaimana telah disebutkan di dalam kitab-kitab mustholah al-Hadits.

===================================================

Maka sanad atau isnad merupakan bagian terpenting dalam agama Islam. Kemurnian ajaran agama Islam dapat terjaga melalui sanad keilmuan dari seorang guru ke guru, dan munculnya faham-faham menyimpang yang dapat menyesatkan umat Islam sangat kecil kemungkinannya untuk tidak terdeteksi. Dan sanad atau Isnad inilah yang tidak dimiliki selain Ahlus sunnah waljama’ah.

Abdullah bin Mubarak, salah satu murid Imam Malik berkata :

الاسناد من الدين ولولا الاسناد لقال من شاء ماشاء
“ Isnad /sanad merupakan bagian dari agama, dan apabila tidak ada sanad maka orang akan seenaknya mengatakan apa yang ingin ia katakana “.

Sufyan Ats-Tsauri berkata :

الإسناد سلاح المؤمن فإذا لم يكن معه سلاح فبأي سلاح يقاتل
“ Sanad / isnad adalah senjata orang mukmin, jika ia tdk memiliki senjata maka dengan apa ia berperang ? “

Al-Qodhi Abu Bakar Al-Arabi berkata di dalam kitabnya Siroojul muridin hal : 80 :

والله أكرم هذه الأمة بالإسناد، لم يعطه أحد غيرها، فاحذروا أن تسلكوا مسلك اليهود والنصارى فتحدثوا بغير إسناد فتكونوا سالبين نعمة الله عن أنفسكم، مطرقين للتهمة إليكم، وخافضين المنزلتكم، ومشتركين مع قوم لعنهم الله وغضب عليهم، وراكبين لسنتهم.
“ Allah memuliakan umat ini dengan isnad yg tdk diberikan pada selain umat ini. Maka berhati-hatilah kalian dari mengikuti jalan Yahudi dan Nashoro shingga kalian berbicara (tentang ilmu) tanpa sanad maka kalian menjadi orang yang mencabut nikmat Allah dr diri kalian, menyodorkan kecurigaan, merendahkan kedudukan dan bersekutu pd kaum yang Allah laknat dan murkai “

Imam Syafi’I juga berkata :

“Yang mencari ilmu tanpa sanad adalah bagaikan pencari kayu bakar dimalam hari yang gelap dan membawa pengikat kayu bakar yang padanya ular berbisa yang mematikan dan ia tak mengetahuinya”.

Dan jika kita tilik dalam al-Quran, terdapat pula ayat yang menjelaskan urgensitas sanad bagi orang-orang belakangan. Allah Swt berfirman :
قل أرأيتم ما تدعون من دون الله أروني ماذا خلقوا من الأرض أم لهم شرك في السماوات ائتوني بكتاب من قبل هذا أو أثارة من علم إن كنتم صادقين
“ Katakanlah! Terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu sembah selain Allah Swt; perlihatkanlah pada-Ku pakah yang telah mereka ciptakan dari bumi ini atau adakah mereka berserikat dalam penciptaab langit ? bawalah pada-Ku kitab yang sebelum al-Quran ini atau Peninggalan (dengan sanad yang shahih) dari pengetahuan (orang-orang terdahulu), jika kamu adalah orang-orang benar !” (QS,al-Ahqaf :4)
Perhatikan :
Kalimat او اثارة من علم oleh al-Laits as-Samarqandi ulama ahli tafsir, menafsirtkannya dengan periwayatan dari para Nabi dan ulama. Selaras dengan Mujahid yang menafsirinya dengan periwayatan dari orang-orang sebelumnya :
وقال مجاهد : رواية تأثرونها عمن كان قبلكم

Bahkan imam Qurthubi dalam tafsirnya juga menafsirkan dengan suatu pengetahuan yang dikutip dari kitab orang-orang terdahulu dengan sanad yang shahih sampai kepada mereka secara mendengarkan langsung :

ثم قال : ائتوني بكتاب من قبل هذا فيه بيان أدلة السمع أو أثارة من علم


=======================================================


Sanad atau Isnad terbagi menjadi dua :

1. Sanad Periwayatan
Keberadaan sanad periwayatan ini berfungsi memfiltter pemalsuan Hadits yang dinisbatkan pada Rasul Saw, sebagaimana telah diperingatkan beliau dalam sebuah haditsnya :

من يقل علي مالم اقل فليتبواء مقعده من النار
“ Siapa saja yang mengatakan suatu perkataan dan menisbatkannya padaku sesuatu yang tidak pernah aku katakana, maka hendaklah ia duduk di neraka “ ( HR. Bukhari)

Para ulama sangat berhati-hati dalam meriwayatkan dan menisbatkan suatu hadits pada Rasulullah Saw. Mereka akan meneliti terlebih dahulu para rawi se atasnya, apakah sanad mereka tersambungkan kepada Rasul Saw atau tidak. Sehingga kemudian muncul istilah Hadits dha’if, hasan dan hadits shahih, serta semisalnya yang terdapat dalam disiplin ilmu Musthalahah al-Hadits.

Dalam periwayatan hadits ini diketahui bahwa para perawi meriwayatkannya dari Rasulullah Saw. Lalu perawi di bawahnya mengambil hadits tersebut darinya, dan begitu seterusnya sampai hadits itu sampai pada imam Bukhari semisal. Kemudian beliau mengumulkan hadits-hadits yang diterima dari rawi se atasnya dalam sebuah kitab yang pada akhirnya kitab imam Bukhari tersebut sampai pada kita.

2. Sanad keilmuan
Para ulama di antaranya imam Malik bin Anas, Ibnu Sirin dan selain keduanya :

إن هذا العلم دين ، فانظروا عمن تأخذوا دينكم
“ Sesungguhnya ilmu ini adalah agama, maka perhatikanlah dari siapa kamu mengambil agamamau / ilmumu “.

Ibnu Arabi berkata :
فما زال السلف يزكون بعضهم بعضا و يتوارثون التزكيات خلفا عن سلف ، و كان علماؤنا لا يأخذون العلم إلا ممن زكي وأخذ الإجازة منأشياخه
“ Para ulama salaf selalu memuji satu sama lainnya, dan terus terwariskan dari generasi ke generasi, dan demikian para ulama kita, tidak mengambil ilmu terkecuali dari orang yang bersih dan mengambil ijazah dari para gurunya “.

Syaikh Abdul Qodir al-Jazairi berkata “ Seseorang tidak dibenarkan menisbatkan keterangan yang ada di dalam sebuah kitab pada pengarangnya tanpa mempunyai sanad “.

Para ulama menjadikan keberadaan sanad sebagai syarat seseorang bisa mengamalkan keterangan atau pendapat yang terdapat dalam berbagai kitab dan menggunakannya sebagai hujjah. Karena sanad keilmuan atau periwayatan kitab tidak ubahnya seperti periwayatan hadits.

Munculnya banyak paham-paham menyimpang dan sesat, kebanyakan ditimbulkan karena tidak memperhatikannya masalah sanad ini. Sehingga kadang kita ketahui, ada seseorang yang belajar dari sebuah buku terjemahan saja atau mungkin dari sebuah situs di internet yang tidak jelas, kemudian orang tersebut memamahaminya dengan pemikirannya yang tidak sesuai dengan maksud sebenarnya. Maka pemahamnnya tersbut telah menyesatkan dirinya dan bahkan orang lain.

Maka sebagaimana telah menjadi keharusan dalam periwayatan hadits sebagai bukti keautentikannya dan telh menjadi sunnah sahabat, tabi’in serta salaf shalih, ia menjadi keharusan pula bagi orang yang meriwayatkan keterangan para ulama dari kitab-kitab mereka.

====================================================

Cara medapatkan sanad keilmuan atau periwayatan kitab.
Untuk mendapatkan sanad keilmuan atau periwayatan kitab, sebagaimana dalam periwayatan hadits terdapat metode antara lain :

Pertama : Sima’, yaitu mendengarkan bacaan guru atas kitab yang diriwayatkan.

Kedua : Qiraah, yaitu membaca kitab tersebut dan didengarkan langsung oleh seseorang guru.
Kedua metode ini disebut dengan metode Talaqqi.
Ketiga : Ijazah, yaitu idzin seseorang guru untuk meriwayatkan kitab tersebut.

Generasi muslim periode awal merupakan generasi yang sangat memperhatikan masalah periwayatan. Perhatian mereka dalam masalah ini begitu besar baik periwayatan al-Quran dan metode bacaannya, periwayatan hadits, fiqih, nahwu maupun berbagai disiplin ilmu lainnya. Hal ini tampak jelas dalam kitab karangan mereka.

===================================================

Menuntut ilmu dengan metode Talaqqi
Pada periode awal, metode talaqqi menjadi metode pilihan agar dapat meriwayatkan apa yang disampaikan oleh guru mereka, yakni salah satu metode periwayatan dengan teknis murid secara langsung mendengar bacaan gurunya (dalam istilah periwayatan hadits diistilahkan dengan metode Sima’) atau sebaliknya, murid yang membaca dan didengarkan secara seksama oleh gurunya (dalam istilah periwayatan hadits biasa diistilahkan dengan metode Qiroah). Sehingga setiap kitab da cabang ilmu lain yang diriwayatkan oleh mereka pasti memiliki sanad sampai pada mushonnifnya.
Periwayatan dengan metode talaqqi seperti ini, selain untuk memantapkan bahwa kitab yang diriwayatkan memang benar-benar dari mushonnifnya, juga memiliki kesitimewaan lain, yakni mempermudah mereka untuk memahami maksud yang dikehendaki oleh mushonnifnya dari keterangan dalam kitabnya, serta menjaga keakuratan teks kitab yang diriwayatkan, sehingga teks tersebut sampai pada periwayat dalam keadaan terbebas dari pengurangan dan penambahan (distorsi dan talbis).

Dan telah kita saksikan saat ini dengan ilmu metode talaqqi dan bukti naskah asli, terbongkar sudah, banyak kitb-kitab para ulama klasik kita yang telah menjadi sasaran distorsi dan talbis dari para aliran-aliran sempalan yg tidak memiliki sanad keilmuan seperti salafy wahhabi dan syi’ah. Di antaranya kitab Tafsir ash-shofi dari karya ulama yang bermadzhab Maliki yang telah dipotong sebagian naskah aslinya, juga kitab Al-Adzkar karya imam Nawawi yang telah mengalami perubahan sub judul dengan merubah bab Ziayarh qobrin Nabi menjadi bab ziayarah masjidin nabi, kitab Ibanah karya imam Asy’ary dalam hal aqidah tak luput dari tahrif mereka, juga kitab al-Ghunyah karya syaih Abdu Qodir pun benyak perubahan yg dilakuan oleh mereka.

Akan tetapi seiring perkembangan khazanah Islam dan begitu banyaknya kitab yang ditulis oleh para ulama, metode ini lambat laun tidak lagi menjadi satu-satunya metode pengembangan ajaran-ajaran Islam yang telah terukir dalam kitab-kitab karya ulama.

Lag pula tidak sedikit muncul kitab-kitab tebal, sehingga bila metode talaqqi tetap menjadi satu-satunya cara periwayatan demi memperoleh sanad sampai pada mushonnifnya, maka akan membutuhkan waktu yang lama dan akan memperlambat perkembangan ajaran agama Islam sendiri.
Maka metode Ijazah kemudian menjadi solusi yang ditawarkan dan dianggap sebagai metode praktis untuk menjaga keberlangsungan dan kemurnian karya-karya para ulama yang telah diriwayatkan dan dinyatakan kevalidannya, dengan syarat :
Naskah tsb dipercaya kevalidannya
Terdapat bebrapa naskah yang sama sehingga diduga kuat kevalidannya
Penukil adalah orang yang peka terhadap setiap pengurangan dan perubahan yang terdapat dalam sebuah teks kitab.
Sementara bila sayarat tidak terpenuhi maka penukil tidak boleh menisbatkan keterangan suatu kitab pada mushonnifnya.

Meskipun tidak bisa dipungkiri metode ini masih diperselisihkan para ulama. Apakah metode ini dapat menggantikan metode talaqqi dalam menjaga khazanah pustaka Islam dari penambaan, pengurangan atau bahkan pengubahan atau tidak. Sebagaimana metode ini juga dierselisihkan dalam periwayatan hadits. Di antara ulama yang melegalkan metode ijazah untuk menjaga hadits Rasulullah Saw adalah Hasan Al-Bashri, Malik bin Anas, Sufyan At-Tsauri, imam Syafi’I, Ahmad bin Hanbal, Bukhari dan Muslim. Mereka berpijak pada sebuah hadits :

عن عروة بن الزبير قال: بعث رسول الله صلى الله عليه وسلم عبد الله بن جحش إلى نخلة، فقال: كن بها حتى تأتينا بخير من أخبار قريش. ولم يأمره بقتال، وذلك في الشهر الحرام وكتب لهم كتابا قبل ان يعلمه اين يسير وقال: «اُخرج أنت وأصحابك حتّى إذا سرت يومين فافتح كتابك وانظر ما فيه وامض لما أمرتك». ولا تستكرهن احدا من اصحابك على الذهاب معك فلمّا سار يومين وفتح الكتاب فإذا فيه: «أن امض حتّى ننزل نخلة، فائتنا من أخبار قريش بما يصل إليك منهم» فقال لاَصحابه حين قرأ الكتاب: سمعاً وطاعة، من كان له رغبة في الشهادة فلينطلق معي فاني ماض لامر رسول الله صلى الله عليه وسلم

“ Diceritakan dari Urwah bin Zubair, dia berkata “ Rasulullah Saw pernah mengutus Abdullah bin Jahsyin ke sebuah kebun kurma, lalu beliau berkata kepadanya” Tetaplah di sana sehingga sampai pada kami satu berita dari berita-berita kaum Quriasy “. Beliau tidak memerintahkannya untuk berperang. Peristiwa tsb terjadi pada bulan yg dimuliakan. Saat itu Rasululllah Saw menulis sepucuk surat sebeum beliau memberitahukan padanya ke mana belaiu akan pergi. Beliau berkata : “ Keluarlah kamu dan sahabt-sahabatmu, kemudian ketika kamu telah melakukan perjalanan selama dua hari, bukalah surat itu dan lihatlah, maka apapun yang aku perintahkan padamu, laksanakanlah dan jangan kamu memaksa seseorang pun dari sahabat-sahabatmu untuk ikut pergi bersamamu. “. Maka ketika Abdullah telah melakuan perjalanan selama dua hari, dia membuka surat tsb, ternyata surat it berisi perintah “ Lanjutkanlah sehingga kamu tinggal di kebun kurma itu lalu sampaikan padaku abara berita kaum Quaisy yang telah sampai padamu !” setelah beliau membacanya beliau berkata pada para sahabatnya “ Dengarkanakh dan patuhlah ! siapapun di anatara kalian yang ingn mati dalam kesyahidan maka berangkatlah bersamaku, sungguh aku orang yang meneruskan perintah Rasulullah Saw “ (HR. Baihaqi)

Hadits di atas menunjukan bahwa mendengarkan secara langsung bukanlah satu-satunya cara untuk dapat meriwayatkan perintah Rasulullah Saw. Bahkan beliau sendiri haya mnyampaikan pesannya melalui surat, itupun dengan tangan orang lain. Sebab, telah maklum kita ketahui sebagai suatu keistimewaan bahwa Rasulullah Saw adalah seorang ummi, tidak bias membaca dan menulis. Sememntara Abdullah hanya berpegang pada perintah Rasulullah Saw untuk membukanya ketika dia telah berjalan selama dua hari dan menyampaikan pada para sahabatnya. Selain hadits di atas masih banyak hadits lainnya lagi yg senada yang mengisahkan pesan Rasulullah Saw via sepucuk surat.
Meski demikian metode talaqqi tetaplah menjadi metode yang terbaik demi menjaga keautentikan dan keorisinilitas karya para ulama, sehingga tidak mengherankan bila banyak pondok pesantren lebih mengedepankan metode ini daripada metode ijazahan.

Metode talaqqi yaitu bertemu langsung dengan mendengarkan atau membaca di hadapan seorang guru dengan sanad yang tersambung pada mushonnifnya, seseorang akan dapt menuai keberkahan dari guru, para perawi seatasnya dan sang mushannif tentunya.

Ibnu Abdillah Al-Katibiy.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar