كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَوْ ءَامَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ مِنْهُمُ Perpuse Peparing hadirkan artikel-artikel faktual sebagai counter attack atas maraknya propaganda murahan yang salah kaprah akan islam dimedia-media online oleh firqoh-firqoh minoritas sempalan yang dapat memecah belah ummat islam seperti wahabi, syiah dan semacamnya juga sebagai media share demi kelestarian nilai-nilai ajaran Ahlussunnah Wal Jama'ah yang asli dan murni di belahan bumi manapun Terima kasih atas kunjungan anda semoga isi dari blog saya yang sederhana ini semoga dapat bermanfaat untuk merekatkan ukhuwah islamiyah dan jangan lupa kembali lagi yah

Selasa, 25 Oktober 2011

Dalil mencium tangan


Lihat scan kitab Adabul Mufrod karya Imam Bukhori halaman 238 bab mencium tangan..

972- Dari Ibnu Umar Ra.
Dia mengatakan: Pada suatu hari kami berada dalam suatu pertempuran, Orang orang pada berlari menjauh dari peperangan tersebut karena mengalami keadaan yang delematis.
Sebagian dari kami berkata: ”Bagaimana jika kita nanti bertemu Nabi Saww, sedangkan kita telah lari?

Sehingga turun ayat 16 surat Al-Anfal yang berbunyi:”Barang siapa yang membelakangi mereka (mundur) diwaktu itu, ”KECUALI BERBELOK UNTUK (SIASAT) PERANG” atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan yang lain, maka sesungguhnya orang itu kembali dengan membawa kemurkaan dari Allah, dan tenpatnya ialah neraka jahanam.
Sebagian dari kami berkata:” Kita tidak pulang ke Madinah sehingga tak ada seorangpun yang mengetahui kita. (jika lari dari peperangan).
Sebagian kami berkata:”Seandainya kita tiba (pulang) ke Madinah….!
Kemudian (tiba-tiba) Nabi saw keluar untuk menunaikan sholat subuh.
Maka kami menghadap dan berkata:”Kami orang orang yang lari (dari peperangan)
Rasul menjawab: ”Kalian adalah orang orang yang mundur/lari, tapi untuk bergabung dengan yang lain (siasat perang).
Maka kami langsung mencium tangan Rasulullah saw.

Kemudian Rasul berkata:”Saya adalah golongan kalian”.

Hadist diatas juga diriwayatkan oleh Abi Dawud (2647), Imam Tirmidzi (1716), Imam Ahmad (2/70), Imam Baihaqi (9/73). Dan Albani melemahkan hadis ini dikitab beliau yang berjudul “DHOIF ABI DAWUD”.

973- Abdurrahman bin Razin bercerita: Kami berjalan jalan di daerah Ribdzah kemudian ada yang mengatakan kepada kami: Disini Salmah bin Al Akwa’ tinggal (sahabat nabi). Kemudian saya mendatangi beliau. Saya mengucapkan salam kepadanya. Dia mengeluarkan tangannya seraya berkata:”Saya telah pernah berbai’at kepada Nabi dengan kedua tangan saya ini. Lantas dia mengulurkan telapak tangannya yang besar seakan akan seperti telapaknya unta, maka kami langsung berdiri meraih telapak tangan beliau kamudian kami menciumnya.

Derajat hadis “Hasan” telah disebutkan pula oleh Ibnu Hajar dalam kitabnya Fathul Bari (11/57).
Albani juga meng ”Hasan” kan hadis ini dalam kitabnya yang berjudul: SHOHIH ADABUL MUFRAD (973).

974-Ibnu Uyaynah bercerita dari Ibnu Jad’aan:
Tsabit bertanya kepada Anas bin malik ra:”Apakah anda pernah menyentuh Rasulullah saw dengan tangan anda?’
Anas ra menjawab:”Ya!
Maka si Tsabit langsung mencium tangannya.

Imam Ahmad bin hanbal juga meriwayatkan hadis ini (3/111)
Syekh Al Bani melemahkan hadis ini dalam kitabnya yang berjudul: DHOIF ADABUL MUFRAD (974).

Saya berkata: ”Hadist di atas menerangkan tentang respec seorang sahabat kepada baginda Nabi Muhammad Saww. Dan juga respec seorang tabi’in kepada sahabat nabi saww.
Bisa jadi tangan guru guru kita ulur sulur dari tangan ke tangan sampai juga kepada Rasulullah saw.
Minimal kita mencium tangan kedua orang tua kita dan guru kita.
Adakah yang tidak mencium tangan seorang yang di hormati karena hadist ini kata albani lemah sanadnya...... ???

By : Kaheel baba

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar