كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَوْ ءَامَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ مِنْهُمُ Perpuse Peparing hadirkan artikel-artikel faktual sebagai counter attack atas maraknya propaganda murahan yang salah kaprah akan islam dimedia-media online oleh firqoh-firqoh minoritas sempalan yang dapat memecah belah ummat islam seperti wahabi, syiah dan semacamnya juga sebagai media share demi kelestarian nilai-nilai ajaran Ahlussunnah Wal Jama'ah yang asli dan murni di belahan bumi manapun Terima kasih atas kunjungan anda semoga isi dari blog saya yang sederhana ini semoga dapat bermanfaat untuk merekatkan ukhuwah islamiyah dan jangan lupa kembali lagi yah

Senin, 17 Oktober 2011

Syaikh ‘Abdul Qadir Al Jailani Bukan Mujassim seperti tuduhan WAHABI/SALAFI

Syech Abdul Qodir Al Jilany adalah adalah ulama besar dan seorang auliya, Syekh Abu al Hasan al Nadwi , dalam Muqoddimah Sirr Al Asror mengatakan beliau bermadzhab Syafi’I dan bermadzhab Hanbali, beliau dalam hidupnya dikenal sebagai ulama yang cakap dalam segala ilmu,mulai fiqih, hadist, tafsir, dan ilmu adab,dan keilmuwan yang lainnya,  sehingga tidak salah apabila kemudian beliau saat ini “di klaim” beberapa pihak, bahkan yang terbaru beliau juga di klaim masuk dalam manhaj Salafy dan terlepas dari tasawwuf, berbagai tinjauan ilmiyah di alamatkan pada beliau sebagai salah satu peletak dasar thoriqoh yang paling berpengaruh didunia Islam  selain Syekh Ahmad Badawi, Syekh Ahmad  al Rifa’I, Syekh Abu Hasan al Syadzili, Syekh Bahauddin al Naqsyabandi, dan beberapa ulama’ yang lain, tercatat beberapa karya beliau seperti Risalah al Ghoutsiyyah, Sirr Al Asror, Fathu Al Rabbany, al Ghunniyah fi al Tashowwuf, Maratib al Wujud, dan beberapa karya yang lain, pendek kata beliau seorang yang termasuk aktif menulis, sehingga pada akhirnya beberapa kalangan ulama besar pengikutnya menulis biografi beliau dalam beberapa Manaqib.

Salah satu yang dialamatkan beliau adalah masalah beliau dianggap salah satu ulama yang tajsim sebagaimana di sebutkan dalam manaqib-manaqib beliau diantara dalam kitab al Nur al Burhan  yang berbunyi :
انت واحد في السماء وانا واحد في الأرض

Dalam kitab yang lain yaitu dalam Tafrikhul Khotir hal 46 berbunyi:

انت واحد في السماء وانت الكبير الجبار المتكبر وانا الحقير الفقير القليل لااله الا انت

Secara tekstual sepertinya dapat disimpulkan bahwa beliau menetapkan Allah itu berarah atau bertempat, banyak nash yang secara tekstual (lihat dalam kitab Al Ghunniyah) sepertinya mengisyaratkan bahwa Allah berarah dan bertempat tertentu, namun apabila kita kaji sebagaimana penelitian yang disampaikan KH. Drs Achmad Muhdhor dari Pesantren Luhur Malang dengan mengambil pendapat Syekh Muhyiddin bin al A’robi dalam kitabnya Aqidatul Khowwash yang berbunyi :

وليس فيها (الغنية) لفظ الجهة…… وهذا يؤيد ماذكره الأئمة الأعلام نجم الدين الكبرى واليافعي والشعراني وابن حجر من تنزيه سيد الشيخ عبد القادر عن ذلك . 25

“Dan didalam kitab Al Ghunniyah tidak terdapat lafadz arah……, dan ini dikuatkan oleh pendapat yang dikemukakan oleh para alim diantaranya yaitu: Najamuddin al-Kubro, Imam al-Yafi’I, Imam Sya’roni, Ibnu Hajar, bahwa Syekh Abdul Qodir al jilany terlepas dari I’tiqod tentang penetapan arah bagi Tuhan”.

Permasalahan ini pada dasarnya merupakan masalah ta’wil tentang “istawaa”nya Allah, untuk itu kita harus juga melihat pendapat beliau Syekh Abdul Qodir mengenai ta’wil dalam kitab Sirr al Asror, beliau mengatakan:
التفسير للعوام و التأويل للخواص,لأنهم العلماء الراسخون,لأن معنى الرسوخ الثبات والإستقرار والإستحكام فى العلم… (سر الأسرار:61).
Dalam pendapatnya diatas nampaknya beliau membedakan pembidanan antara tafsir dan ta’wil, tafsir bagi beliau untuk orang umum, sedangkan ta’wil bagi orang khusus, dalam hal ini adalah ulama’ yang mampu menetapkan, dan mengambil suatu hikmah dari suatu ilmu.

Untuk itu dalam memahami teks manaqib diatas perlu juga dipahami dengan beberapa pandangan para ulama tentang makna istaawa, untuk hal ini Sayyid Mohammad bin Alwi al Maliki al Hasani yang mengambil dari imam madzhabnya yaitu Imam Malik yang mengatakan:
الإستواء معلوم والكيف مجهول
Dari sini sangat jelas Imam Malik berpendapat dalam kitab Huwa Allah halaman 29 istawaa sudah maklum,dan tentang caranya kita tidak tahu, namun keterangan tersebut masih membutuhkan penjelasan supaya jelas yang dimaksud Imam  Malik yaitu dengan sebuah keterangan sebagai berikut:
الإستواء معلوم اي الإستواء الذي يليق بكمال الله وهو الإستيلاء والقهر معلوم عندك وكيفية استيلائه وقهره لعباده مجهولة.
Maksudnya adalah yang dimaksud istawaa itu maklum, yaitu arti dari istawaa yang sesuai dengan kesempurnaan Allah, yaitu “al Istilaa” (mengatur) dan al-Qohru (menguasai), adalah maklumbagimu. Sedangkan cara mengatur dan menguasainya  Allah kepada hambanNya adalah tidak jelas dan tidak bias kuita ketahuiNya.
الإستواء معلوم معلوم بمعنى اسنواء الحوادث معلوم عندك وكيفية استواء الله المذكور فى الأية مجهولة لأنا نعلم حقيقة هذا الإستواء ولا كيفية.
Maksudnya adalah istawaa itu maklum, adalah arti dari pada istiwaaul hawadits (makhluq) adalah maklum bagimu. Sedangkan cara istiwa’nya Allah yang termaktub dalam ayat adalah majhul, karena kita tidak mengetahui hakekat istiwa itu dan cara istiwa’.

Penjelasan diatas akan sepadan dengan apa yang disampaikan oleh Syekh Jalaluddin al-Suyuthi al Syafi’I dalam al-Itqon fii al’ulum al-Qur’an juz 2 halaman 6 ketika menjelaskan beberapa makna istawaa ketika beliau menolak makan istawaa dengan istaqorro (bersemayam)
حكي مقاتل والكلبي عن ابن عباس استواء بمعنى استقر وهذا ان صح يحتاج الى تأويل فإن الإستقرار يشعر بالتجسيم
Beliau memperingatkan tentang makna istawaa apabila menggunakan makna istaqorro (artinya Allah itu bertempat), maka harus dita’wil sebab apabila tidak akan terjerumus dalam tajsim.

Berdasarkan pemaparan diatas maka tepatlah apabila kita analisa secara sintesis dan comparative dua perkataan Syekh Abdul Qodir al-Jilany diatas masing-masing bermaksud untuk menunjukkan keagungan dan ketinggian derajad dari pada Allah. Al Mursyid Syekh Muslih bin Abdur Rahman al-Maroqi mengartikan sebagai berikut:
“Allah utawi panjenengan meniko dzat ingkang setunggal dzate lan sifate lan af’ale kang miliki lan ngeratoni ing dalem langet lan bumi”
Hal yang sama juga disampaikan dalam syarakh Nur al Burhany al-Habib Sholeh bin Idrus al-Habsyi   yang tidak kurang lebih dengan pendapat Syekh Muslih dan beliau juga mengatakan
إن الله وتر اي واحد في الذات والصفات  والأفعال  لامثل ولا ضد ولاند.
Beliau habib Sholeh juga menambahkan dalam memahami makna istaawa perlu di bekali dengan pengetahuan dialekta arab berupa ilmu nahwu, ilmu bayan, ilmu ma’ani, ilmu badi’ serta ilmu ushul fiqih dan lain sebagainya.

Akhirnya dari penjelasan diatas sungguh salah apabila beliau Syekh Abdul Qodir Al jilany termasuk ulama yang faham aqidahnya tajsim.

DAFTAR PUSTAKA

*Al-Hasany, al-Sayyid Mohammad bin Alwi al-Maliki, Huwa Allah, Makkah,

*Al-Irbily, Ibnu Muhyiddin, Tafrih al-Khothir, al Iskandariyyah, Istanbul,

*Al-Jilany, Abdul Qodir, al Syekh, al-Ghunniyah li Thoriq al‑Haq, Dar el-Kutub al-Arobiyyah, Beirut, Libanon, Sirr al-Asror wa mudhhar al-Anwar fiimaa, yahtaaju ilaihi al-Anwar, Damaskus, Syria, 2007/1427 H

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar