كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَوْ ءَامَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ مِنْهُمُ Perpuse Peparing hadirkan artikel-artikel faktual sebagai counter attack atas maraknya propaganda murahan yang salah kaprah akan islam dimedia-media online oleh firqoh-firqoh minoritas sempalan yang dapat memecah belah ummat islam seperti wahabi, syiah dan semacamnya juga sebagai media share demi kelestarian nilai-nilai ajaran Ahlussunnah Wal Jama'ah yang asli dan murni di belahan bumi manapun Terima kasih atas kunjungan anda semoga isi dari blog saya yang sederhana ini semoga dapat bermanfaat untuk merekatkan ukhuwah islamiyah dan jangan lupa kembali lagi yah

Jumat, 14 Oktober 2011

Wahabisme di Indonesia

1.  Pendahuluan
          Golongan Wahabi adalah pengikut Muhammad ibn Abdul Wahhab, sebuah gerakan separatis yang muncul pada masa pemerintahan Sultan Salim III (1204-1222H). Gerakan ini berkedok memurnikan tauhid dan menjauhkan umat manusia dari kemusyrikan. Muhammad ibn Abdul Wahhab dan para pengikutnya menganggap bahwa selama 600 tahun umat manusia dalam kemusyrikan dan dia datang sebagai mujaddid yang memperbaharui agama mereka.2 Gerakan Wahabi muncul melawan kemampuan umat Islam dalam masalah aqidah dan syariah, karenanya gerakan ini tersebar dengan peperangan dan pertumpahan darah.
          Dengan dukungan Hijaz bagian timur yaitu raja Muhammad ibn Saud raja ad Dir’iyah,3 pada tahun 1217 H Muhammad ibn Abdul Wahhab bersama pengikutnya menguasai kota Thaif setelah sebelumnya mereka membunuh penduduknya, tidak ada yang selamat kecuali beberapa orang.4 Mereka membunuh laki-laki dan perempuan, tua, muda, anak-anak, bahkan bayi yang masih menyusu pada ibunya juga mereka bunuh. Mereka keluarkan semua penghuni rumah-rumah yang ada di Thaif, bahkan yang sedang shalat di masjid juga mereka bantai. Mereka rampas semua harta dan kekayaan penduduk Thaif dan mereka musnahkan semua kitab yang ada hingga berserakan di jalanan.5
          Dari Thaif kemudian mereka memperluas kekuasaannya ke beberapa kota seperti Mekkah, Madinah, Jeddah dan kota-kota lainnya. Hingga akhirnya pada tahun 1226 H Sultan Mahmud Khan II turun tangan dengan memerintahkan Raja Mesir Muhammad Ali Basya untuk membendung gerakan Wahabi ini. Dengan kekuatan pasukannya dan kegigihan Raja Muhammad Ali Basya sampai akhirnya mereka dapat mengambil alih kota Thaif, Mekkah, Madinah, dan Jeddah dari kekuasaan golongan Wahabi.6
          Sebagian kalangan tidak menyukai istilah “Wahabi”, dan lebih menyukai istilah “Salafy”. Salah satu alasannya, penamaan dakwah yang diemban oleh Muhammad dengan nama Wahhabiyah yang dinisbatkan kepadanya adalah penisbatan yang keliru dari sisi bahasa, karena ayahnya tidak menyebarkan dakwah ini.6



2 Syech Ahmad Zaini Dahlan, fitnah al Wahhabiyah, Klev, all Irsyad, 2005, cet. 2, h. 5-6               
3 Raja Muhammad ibn Saud berasal dari Bani Hanifah kaum Musailamah al Kadzdzab, lihat Ahmad Zaini Dahlan, Fitnah al Wahhabiyah, Dari Nama raja inilah yang kemudian di ambil nama Kerajaan Saudi Arabia sekarang ini.
4 Syekh Ahmad Zaini Dahlan, Fitnah al Wahhabiyah, h. 11
5 Syekh Ahmad Zaini Dahlan, Ummara’ al-Balad al-Haram, ad Daral Muttahidah, h. 297-298.
6 Sejarah ringkas peperangan yang terjadi antara golongan Wahabi dan pasukan Muhammad Ali Basya baca Syekh Ahmad Zaini Dahlan. Fitnah al Wahhabiyah.


2.  Siapakah Muhammad ibn Abdul Wahhab

          Muhammad ibn Abdul Wahhab ibn Sulaiman ibn Ali ibn Muhammad ibn Ahmad ibn Rasyid at Tamimi lahir pada tahun 1115 H di pedesaan al Uyainah yang terletak di sebelah utara kota Riyadl.7 Meninggal dunia pada tahun 1206 H. Pertama kali dia menyebarkan ajarannya di daerahnya Huraimalan, banyak mendapatkan tantangan dari masyarakat sekitar. Bahkan ayahnya Syekh Abdul Wahhab juga menentangnya. Sejak Muhammad kecil ayahnya sudah mempunyai firasat buruk dan sering mengingatkan masyarakat dari kejahatan Muhammad.8 Ketidak cocokan Muhammad dengan ayahnya berlanjut hingga ia dewasa dan mulai menyebarkan ajarannya. 
          Muhammad menganggap ayahnya cenderung mengikuti ajaran sufiyah dan berlebihan dalam mencintai orang-orang shalih.9 Tidak hanya dengan ayahnya, saudara kandungnya Syekh Sulaiman ibn Abdul Wahhab juga menentangnya. Bahkan beliau menulis dua karangan sebagai bantahan terhadap Muhammad. Bantahan pertama beliau beri judul al Shawa’iq al Ilahiyah fi al Radd ‘ala al Wahhabiyah dan kedua berjudul Fashl al al Khitab fi al Radd’ a;a Muhammad ibn Abd al Wahhab. Karena banyaknya yang menentang ajarannya maka Muhammad lebih memilih berdakwah dengan sembunyi-sembunyi. Baru setelah wafatnya ayahnya dia berani lantang dalam menyebarkan ajarannya.10
 
     Ia mulai dengan mengkafirkan umat Islam yang ziarah kubur, mereka hanya bertawassul dan membalikkan ayat yang sebetulnya turun sebagai peringatan untuk kaum kafir ia pergunakan ayat ini untuk mengkafirkan umat Islam. 
          Di antara ulama yang menentang ajaran Muhammad adalah gurunya sendiri yaitu Syekh Muhammad ibn Sulaiman al Kurdi pengarang Hasyiyah Syarh ibn Hajar ‘ala Mata Bafadlal. Di antara perkataan beliau: “Wahai putra Abdul Wahhab saya menasehatimu karena Allah ta’ala agar kamu menjaga lisan kamu dari menyesatkan umat Islam. Kalau kamu mendengar dari seseorang yang meyakini bahwa istighatsah dapat memberikan manfaat dari selain Allah maka ajarkan kepada orang tersebut ajaran yang benar dan jelaskan bahwa tidak ada yang dapat memberikan manfaat kecuali Allah. Kalau ia menolak kebenaran maka kafirkan orang tersebut. Tidak ada alasan bagimu untuk mengkafirkan mayoritas umat. Dan kamu telah menyimpang dari mayoritas umat, maka kekufuran lebih dekat terhadap orang yang menyimpang dari mayoritas umat karena ia telah mengambil jalan selain jalan umat Islam. Dan sesungguhgnya serigala itu akan memangsa kambing yang terpencar dari gerombolannya.”[1]


7 Ahmad ibn Hajar ibn Muhammad al Abu Thami, Muhammad ibn Abd al Wahhab, Kairo, Dar al Syari’ah, 2004, cet. I, h. 15
8  Syekh Muhammad ibn Humaid an Najdi, as Suhubul Wabilah ‘ala Dharaih al Hanabilah. Maktabah al Imam Ahmad, cet. I, h. 275. Syekh Muhammad ibn Humaid adalah Mufti madzhab Hanbali di Makkah al Mukarromah. Dalam kitab ini Syekh Muhammad ibn Humaid menyebutkan sekitar 800 biografi ulama Hanabilah, akan tetapi beliau tidak menyebutkan nama Muhammad ibn Abdul Wahhab dalam daftar para ulama Hanabillah. Ironis memang sementara golongan Wahabi mengklaim bahwa mereka penganut madzhab Hanbali sedangkan pendiri golongan tersebut justru tidak diakui keilmuannya dalam deretan ulama Hanbali.
9   Ahmad ibn Hajar ibn Muhammad al Abu Thami, Muhammad ibn Abd al Wahhab,. h. 19-20
10 Syekh Muhammad ibn Humaid an Najdi, AsSuhubul Wabilah. Hal ini dikuatkan oleh tulisan seorang wahabi yang bernama Ahmad ibn Hajar ibn Muhammad al Abu Thami dalam bukunya tentang biografi Muhammad ibn Abdul Wahhab.
[1] Syekh Ahmad Zaini Dahlan, Fitnah al Wahhabiyah, h. 8-9

3.  Di Antara Ajaran Golongan Wahabi
          Muhammad ibn Abdul Wahhab telah membuat agama baru yang diajarkan kepada para pengikutnya. Dasar ajarannya ini adalah menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya dan meyakini bahwa Allah adalah benda yang duduk di atas Arsy. Keyakinan ini merupakan penyerupaan Allah dengan makhluk-Nya, karena duduk adalah salah satu sifat manusia.
          Para ulama salaf bersepakat bahwa barang siapa yang mensifati Allah dengan salah satu sifat di antara sifat-sifat manusia maka ia telah kafir. Sebagaimana hal ini ditulis oleh Imam al Muhaddits as Salafi ath Thahawi (227 – 321 H) dalam kitab aqidahnya yang terkenal dengan nama al ‘Aqidah ath Thahawiyah, beliau berkata: 
“Barang siapa mensifati Allah dengan salah satu sifat dari sifat-sifat manusia, maka ia telah kafir”.
     
Di antara keyakinan golongan Wahhabiyah ini adalah mengkafirkan orang yang berkata: “ Yaa Muhammad…”. Mengkafirkan orang yang berziarah ke makam para Nabi untuk bertabarruk (mencari berkah), mengkafirkan orang yang mengalungkan hirz (tulisan ayat-ayat al-Qura’an atau dzikir yang warid dari Rasul), padahal apa yang di dalam hirz tersebut hanyalah ayat-ayat al-Qur’an dan sama sekali tidak terdapat lafadz-lafadz yang tidak jelas yang diharamkan. Mereka menyamakan perbuatan memakai hirz ini dengan penyembahan terhadap berhala.
       Mereka (golongan Wahabbi) dalam hal ini telah menyalahi para sahabat dan salafus salih. Telah menjadi kesepakatan bahwa diperbolehkan mengucapkan “Yaa Muhammad …” ketika dalam kesusahan. Semua umat Islam bersepakat tentang kebolehan ini dan melakukannya dalam praktek keseharian mereka, mulai dari sahabat nabi, para tabiin dan semua generasi Islam hingga kini. Bahkan Imam Ahmad ibn Hanbal, Imam Madzhab Hanbali yang mereka klaim di negeri mereka sebagai madzhab yang mereka ikuti, telah menyatakan kebolehan menyentuh dan meletakkan tangan di atas makam Nabi Muhammad, menyentuh mimbarnya dan mencium makam dan mimbar tersebut apabila di niatkan untuk bertabarruk (mendekatkan diri) kepada Allah dengan bertabarruk.12
        Mereka telah menyimpang dari jalur umat Islam dengan mengkafirkan orang yang beristighatsah kepada Rasulullah dan bertawassul dengannya setelah wafatnya. Mereka berkeyakinan bahwa orang yang bertawassul selain yang hidup dan yang hadir (ada di hadapan kita) adalah kufur. Atas dasar kaidah ini, mereka mengkhafirkan orang yang berbeda pendapat dengan mereka dalam masalah tawassul ini dan menghalalkan untuk membunuhnya. Sebagaimana perkataan Muhammad ibn Abdul Wahhab: “Barang siapa yang masuk dalam dakwah kita maka ia mendapatkan hak-hak kita dan memiliki kewajiban sebagaimana kewajiban-kewajiban kita dan barang siapa yang tidak masuk (dalam dakwah kita) maka ia kafir dan halal darahnya”. Dan ia juga mengatakan: “Dan ketahuilah bahwa pengakuan mereka (umat Islam) dengan tauhid ar Rububiyah belum memasukkan mereka ke dalam Islam, dan penyebutan mereka terhadap para malaikat, para nabi, para wali untuk mendapatkan syafaat mereka dan untuk mendekatkan diri kepada Allah, hal itulah yang menghalalkan darah dan harta mereka” 13
          Ajaran inilah yang diyakini oleh golongan Wahabi sekarang ini, bahwa menurut mereka orang yang bertawassul adalah musyrik. Sebagaimana perkataan Muhammad Ahmad Basyamil, “Sungguh aneh dan mengherankan Abu Lahab dan Abu Jahal lebih bertauhid dan lebih murni imannya dari umat Islam yang bertawassul dengan para wali dan orang-orang shalih dan mengharapkan syafaat dari Allah Ta’ala”.14
          Karena mereka ingin mengklaim bahwa mereka yang benar dan selain mereka sesat dan halal darahnya.


12 Imam Ahmad ibn Hanbal, al Jami’ fi al ‘ilal wa Ma’rifati ar Rijal, paham mengharamkan orang yang bertawassul juga menyalahi apa yang ditulis oleh Ibn Tamiyah dalam al Kalim atThayyib. Padahal Ibn Taimiyah adalah orang yang kitab-kitabnya paling banyak mempengaruhi  pemikiran Muhammad Ibn Abdul Wahhab. Berarti secara tidak langsung ia juga mengkafirkan Ibn Taimiyah yang memperbolehkan Tawassul. Lihat as Suhubul Wabilah.
13 Muhammad Ibn Abdul Wahhab, Kasyfu al Syubuhat, Saudi Arabia, Kementerian Wakaf dan Urusan Islam, h. 7
14 Muhammad Ahmad Basyamil, Kaifa Nafhamu at Tauhid, As Syariqah, Dar al Fath, h. 22-23

4.  Beberapa Ketimpangan Ajaran Wahabi
          Berikut ini beberapa ketimpangan pemikiran mereka yang penulis sajikan dalam tulisan singkat di bawah ini.
1.  Mereka (Golongan Wahabi) mengharamkan peringatan maulid Nabi Muhammad dan menganggapnya sebagai salah satu bid’ah yang tercela, bahkan salah seorang dari mereka yang bernama Abu Bakar al Jazairiy mengatakan: “Sesungguhnya sesembelihan yang disembelih untuk diberikan kepada orang-orang yang datang pada acara maulid lebih haram daripada babi”. Bahkan Sholeh Ibn Fauzan mengatakan dalam kitabnya yang berjudul at Tauhid: “Orang-orang jahil dari kalangan umat Islam dan ulama-ulama mereka yang sesat merayakan peringatan maulid.”[1] Ibn Baz juga mengatakan: “Perayaan maulid Nabi sama halnya dengan perbuatan orang-orang Yahudi.”[2] Padahal menurut Ibn Taimiyah dalam sebagian fatwanya mengatakan apabila peringatan tersebut dilakukan dengan niat yang baik maka akan mendapatkan pahala. Sebagaimana ia sebutkan dalam kitabnya yang berjudul Iqtidha al Shirath al Mustaqim: “Begitu juga apa yang dilakukan oleh sebagian orang seperti kegembiraan orang-orang Nasrani pada hari kelahiran Isa atau kecintaan dan memuliakan Nabi Muhammad, maka Allah memberikan pahala atas kecintaan dan ijtihad ini bukan atas bid’ahnya”.[3] Dalam halaman lain ia mengatakan: “Maka pemuliaan maulid dan menjadikannya sebagai tradisi musiman telah dilakukan oleh sebagian orang. Mereka akan mendapatkan pahala besar karena niat baiknya dan pemuliaan mereka terhadap rasulullah sebagaimana yang telah saya sebutkan”.[4]
 
2.  Mereka mengharamkan tawassul dengan para Nabi dan wali, bahkan mereka mengatakan tawassul termasuk salah satu perbuatan syirik.[5] Abu Bakr al Jazairi mengatakan: “Tawassul dengan kemuliaan para wali dan sholihin dapat mengeluarkan pelakunya dari agama Islam dan berhak dengan siksaan neraka.[6] Padahal Ibn Taimiyah dalam kitabnya al Kalim al Thayyib menyebutkan hadits tawassulnya Abdullah ibn Umar. Ia menyebutkan hadits yang diriwayatkan oleh al Haytsam ibn Khasyam berkata: “Kami bersama Abdullah ibn Umar ketika itu kakinya terkena semacam keseleo, ada seseorang yang berkata kepadanya: sebutlah orang yang paling kamu cintai, kemudian Ibn Umar menyebutkan “Ya Muhammad”, maka seketika itu ia sembuh (bagikan unta yang lepas tali ikatannya).”[7] Kata “Ya Muhammad” adalah tawassul terhadap rasul yang ketika peristiwa tersebut terjadi rasul telah meninggal. Ibn Taimiyah menyebutkan bahwa perkataan tersebut (tawassul) termasuk kata-kata yang baik sehingga disebutkan dalam kitabnya al Kalim al Thayyib sedangkan golongan Wahabi menjadikannya termasuk salah satu perbuatan syirik.
3.  Golongan Wahabi sangat mencela tasawwuf dan para sufi tanpa membedakan antara sufi sejati dan mereka yang hanya mengaku-ngaku sufi. Mereka mengatakan tentang kaum sufi: “Perangilah mereka (golongan sufi) sebelum kaliman memerangi golongan Yahudi, karena sesungguhnya sufi itu adalah ruh Yahudi.[8] Dalam hal ini mereka telah menyalahi Ibn Taimiyah yang pernah mengatakan tentang al Junaid al Baghdadi penghulu kaum sufi pada masanya bahwa beliau adalah Imam Kebenaran, sebagaimana ia sebutkan dalam kitabnya Syarh Hadits al Nuzul.[9]
 
4.  Golongan Wahabi melarang umat Islam membaca al-Qur’an untuk sesama muslim yang telah meninggal dunia. Mereka juga mengatakan bahwa bacaan al-Qur’an tersebut tidak akan bermanfaat bagi si mayit dan orang yang melakukannya akan disiksa di akhirat kelak.[10] Padahal Ibn Taimiyyah dalam Majmu’ Fatawa juz 24 membolehkannya dan juga Muhammad ibn Abd al Wahhab. Dalam kitabnya yang berjudul Ahkam Tamanni al Maut Ibn Abd al Wahhab menyebutkan hadits yang diriwayatkan oleh Sa’d al Zanjani dari Abu Hurairah bahwasannya Rasulullah mengatakan (yang artinya): “Barang siapa yang memasuki pemakaman kemudian ia membaca surat Al-Fatihah, al Ikhlas dan al Takatsur, kemudian ia mengatakan: saya jadikan pahala apa yang telah aku baca untuk penghuni makam dari orang-orang mukmin dan mukminat, maka mereka (orang-orang yang telah meninggal tersebut) akan memintakan syafaat kepada Allah bagi orang tersebut.[11]
 
5.  Golongan Wahabi mengatakan bahwa mereka yang telah meninggal dunia tidak lagi dapat mendengar, sehingga mereka mengatakan bahwa mentalqin mayyit telah dimakamkan merupakan bid’ah yang sesat. Padahal Muhammad Ibn Abd al Wahhab dalam kitab Ahkam Tamnni al Maut hadits yang diriwayatkan al Thabarani dalam Mu’jam al Kabir dan Ibn Manduh yang berisi tentang kebolehan men-talqin mayit. Hadits tersebut diriwayatkan oleh sahabat Abi Umamah dari Rasulullah bahwasanya beliau bersabda yang artinya: “Apabila salah seorang dari kalian meninggal dunia kemudian setelah kalian makamkan maka hendaklah salah seorang di antara kalian berdiri di bagian kepala si mayit dengan mengatakan: Wahai fulan ibn fulanah, sesungguhnya mayit tersebut mendengar tapi tidak menjawab, kemudian orang tadi berkata: Wahai fulan ibn fulanah, sesungguhnya mayit tersebut bangun untuk duduk,  kemudian orang tadi berkata: Wahai fulan ibn fulanah, maka sesungguhnya mayit tersebut mengatakan: Bimbinglah saya semoga Allah merahmatimu akan tetapi kalian tidak merasakan”.[12]


[1] Sholeh ibn Fauzan, at Tauhid, (Riyah: tt), h.116
[2] Ibn Baz, Tahdzir min al Bid’ah, h.5
[3] Ibn Taimiyah, Iqtidha Shirath al Mustaqim, (Beirut: Dar al-Mar’rifah), h.294.
[4] Ibn Taimiyah, Iqtidha Shirath al Mustaqim, h.297
[5] Lihat Sholeh ibn Fauzan, at Tauhid, h.70
[6] Abu Bakar Al Jazairi, Aqidah al Mukmin, h.144.
[7] Ibn Taimiyah, Al Kalim al Thayyib, (Kairo: Maktabah al-Jumhuriyah), h.88
[8] Lihat kitab mereka, Majmu’ al Mufid min Aqidah al Tauhid, (Riyadh: Maktabah Dar al Firk), h.102
[9] Ibn Taimiyah, Syarh Hadits al Nuzul, (Beirut: Tahb’ah Zuhair al-Syawisy), h.123
[10] Muhammad Jamil Zainu, Taujihat Islamiyah. (Riyath: Kementrian Agama Islam), h.137
[11] Muhammad ibn Abd al Wahhab, Ahkam Tamanni al Maut, Tashhih Abd al Rahman al Sadhan dan Abd al Rahman al Jabrin h.55. Naskah kitab ini telah dicocokkan dengan naskah foto copi no 87/771 yang ada di perpustakaan Saudi Arabia di Riyatd.
[12] Muhammad ibn Abd al Wahhab, Ahkam Tamanni al Maut, h.19.

5.  Perkembangan Wahabisasi di Indonesia
         
          Seperti telah dijelaskan di atas, Wahabi juga dikenal dengan istilah Salafy, karena klaim mereka yang berdakwah di atas manhaj salaf shalih. Madrasah Salafiyah sendiri terdapat di berbagai Negara muslim, antara lain di Arab Saudi, Yaman, Yordania, Syria, Negara-negara Jazirah Arab, Mesir, Pakistan, India, Asia Tengah dan lainnya. Tiga madrasah yang sangat dominan saat ini ialah Salafiyah di Arab Saudi, Salafiyah di Yaman, dan Salafiyah di Yordania-Syria (Syam).
          Paham Salafiyah yang masuk ke Indonesia bermacam-macam warna. Warna yang paling asli ialah dakwah Muhammad bin Abdul Wahhab yang dibawa oleh ulama-ulama di Sumatera Barat pada wal abad ke-19. Inilah Salafiyah Pertama di Indonesia, dikenal sebagai kaum Padri, di zaman kolonial berperang melawan kaum adat dan Belanda. Paham Salafiyah juga berpengaruh secara realtif terhadap organisasi-organisasi Islam di Indonesia, misalnya Muhammadiyah, Syarikat Islam, Persatuan Indonesia (Persis), juga al-Irsyad. Tokoh-tokoh seperti Ahmad Dahlan, A. Hasan, Munawar Cholil, dan lain-lain dikenal sebagai penggerak purifikasi di Indonesia yang anti “syrik” dan “bid’ah”.
          Di era modern, Salafiyah masuk ke Indonesia melalui beberapa jalur, antara lain melalui buku-buku, media, proses pendidikan, kerjasama kelembagaan, dan jalur gerakan dakwah Salafiyah. Jalur buku bisa berupa buku asli (berbahasa Arab) yang dibaca oleh muslim Indonesia, juga beberapa buku terjemahan dari karya ulama-ulama Salafiyah di Timur Tengah. Jalur media melalaui majalah, bulletin, internet, kaset-kaset, VCD, dan lain-lain.[1]           
        Dengan dukungan negara petrodollar Saudi Arabia, gerakan ini mempunyai basis yang kuat di beberapa instansi formal ataupun non formal di Indonesia. Pemberian bea siswa bagi siswa yang berprestasi untuk melanjutkan studi di negara asal gerakan ini. Gerakan salafisme yang pada tahun 2000-an pesat perkembangannya. Instansi-instansi non formal seperti el-Data, as Sofwah, al-Huda, as Sunnah, Ruqya Center dan lain-lain. Mereka juga membentuk gerakan anti kemunkaran melalui Laskar Jihad (belakangan gerakan ini tidak muncul lagi dikarenakan konflik internal).
        Mereka juga merambah media tulis mereka terjemahan buku-buku karya ulama-ulama Wahabi, majalah seperti majalah al-Furqan, as Sunnah, dan lain-lain. 
          Di Indonesia, dakwah Salafiyah tidak hanya satu ragam, namun amat berbagai-bagai. Secara garis besar setidaknya ada dua gerakan, yakni Salafi Yamani dan Salafi Haraki. Istilah Salafi Yamani ditujukan untuk menyebut para dai Salafy alumni Madrasah Salafiyah Muqbil bin Hadi al-Wad’i (meninggal 2002), yang terletak di kota Sa’dah, desa Dammaz, Yaman, beserta pihak-pihak lain dari kalangan dai atau penuntut ilmu, yang sepakat dengan metode dakwah Muqbil bin Hadi. Madrasah Salafiyah di Yaman terkenal paling keras sikapnya terhadap “ahli bid’ah” dan “kelompok-kelompok menyimpang”.[2]
          Sedangkan Salafy Haraki adalah gerakan dakwah Salafiyah yang menerapkan metode pergerakan (harakiyyah). Metode tersebut meskipun tidak sama persis, serupa dengan metode yang ditempuh oleh jamaah-jamaah dakwah Islam, seperti Ikhwanul Muslimin (IM), Hizbut Tahrir (HT), Jamaah Tabligh (JT), Jamaat Islamy (JI), Negara Islam Indonesia (NII), dan lain-lain. Pola haraki (pergerakan) inilah yang membedakan kelompok ini dengan Salafy Yamani dan salafy-salafy independen yang tidak mengikatkan diri dengan jamaah, madrasah, atau organisasi manapun.
       Salafy Yamani sangat menolak metode pergerakan, sebab hal itu dianggap sebagai bid’ah dan merupakan praktik fanatisme (hizbiyyah).[3] Namun rupanya mereka tidak konsisten terhadap prinsipnya. Buktinya adalah keberadaan Forum Komunikasi Ahlussunnah Wal Jama’ah (FKAWJ), kemudian melahirkan Laskar Jihad, yang didirikan oleh tokoh Salafy Yamani, Ja’far Umar Thalib. Forum ini tidak jauh berbeda dengan kelompo hizbiyyah yang semula sangat mereka musuhi.
          Dalam persoalan politik, Salafi Yamani memandang keterlibatan dalam semua proses politik praktis seperti pemilihan umum sebagai sebuah bid’ah dan penyimpangan. Berbeda dengan Salafi Haraki yang cenderung menganggap masalah ini sebagai persoalan ijtihadiyah belaka.
          Selain istilah Salafy Yamani dan Haraki, ada istilah-istilah lain seperti Salafy Sururi, Salafy Jihadi, Salafy Wahdah Islamiyah, Salafi Turatsi, Salafy Ghuraba, Salafy Ikhwani, Salafy Hadadi, Salafy Turaby, dan sebagainya. Ternyata, nama-nama tersebut tidak hanya sekedar istilah, namun saling mengklaim kebenaran dan mengkampanyekan permusuhan. Di internet, perseteruan dan saling sesat menyesatkan terjadi antara kelompok-kelompok salafy tersebut.
          Ketika seseorang duduk di Majlis Salafy Turatsi, ustadz-ustadz as-Shafwah mengatakan “haram hukumnya bermajelis dan bertaklim dengan Salafy Yamani.”
          Ketika seseorang duduk dan belajar bersama dengan Salafy Wahdah Islamiyyah, maka pemuka-pemuka Salafy Wahdah mengatakan Salafiyyin aliran Turatsi itu hizbi antek PKS dan Ikhwanul Muslimin yang termasuk 72 golongan yang masuk neraka jahanam. Anda akan tercengang jika membaca web site ini http://sunnisalafi.blogspot.com/2009/03/pembesar-turotsi-kuwait-bersama-rafidhi.html
          Ketika seseorang hadir di taklim kelompok Salafy Sururi, ustad-ustadznya mengatakan bahwa Salafy Wahdah Islamiyyah adalah khawarij – maaf - anjing-anjing neraka yang menggunakan sistem berhala.
          Ketika seseorang berkumpul bersama Salafy Yamani, ustadz-ustadz Salafy Yamani mengatakan bahwa Salafy Sururi, Salafy Haraki, Salafy Turatsi, Salafy Ghuraba, Salafy Wahdah Islamiyyah, Salafy Persis, Salafy Ikhwani, Salafy Hadadi, Salafy Turaby, bukanlah salafy tapi salaf-i (salafi imitasi) yang khawarij, bid’ah, dan hizbi.
          Jafar Umar Thalib mengatakan bahwa Abdul Hakim Abdat (Salafy Turotsi) itu ustadz otodidak yang “pakar hadats” (najis) bukan “pakar hadits”. Silakan juga lihat di http://darussalaf.org/
          Muhamad Umar As Seweed (menjadi pemimpin Salafy Yamani pasca Ja’far Umar) mengatakan bahwa Ja’far Umar Thalib itu ahli bid’ah dan khawarij. Bahkan kelompok as-Seweed menyusun buku dengan judul “Pedang tertuju di Leher Ja’far Umar Thalib”, yang artinya Ja’far Umar Thalib halal dibunuh. As Seweed juga berseteru dengan Salafi al-Shafwah. Perseteruan itu dapat Anda lihat di” http://www.salafy.or.id/print.php?id_artikel=557 dan http://www.scribd.com/doc/12229113/Persaksian-Ustadz-Muhammad-Umar-asSewed-Tentang-Yayasan-AlSofwah
          Abdul Hakim Abdat (Salafy Turatsi) mengatakan bahwa Salafy Wahdah Islamiyyah itu sesat menyesatkan dan melakukan dosa besar (hanya) dengan mendirikan yayasan/organisasi, sedang organisasi adalah hizbi. Salafi ini juga dianggap sesat oleh yang lain, sehingga sampai terbit buku “Nasihat Ilmiah untuk Wahdah Islamiyyah”. Perseteruannya dapat Anda lihat di http://ashthy.wordpress.com/
          Sedang Salafy Wahdah Islamiyyah mengatakan bahwa Salafy Yamani dan Abdul Hakim Abdat (yang mengharamkan organisasi) itu salafy-salafy primitif dan terbelakang yang hanya cocok hidup di jaman purba atau pra sejarah.
        Perpecahan salafi menjadi beberapa kelompok antara lain: kelompok Al-Sofwah dan Al-Haramain Jakarta; Imam Bukhari Solo, al-Furqan Gresik, Islamic Center Bin Baaz dan Jamilurahman as-Salafy Jogya; FKAWJ & Lasykar Jihad Jakarta; Dhiyaus Sunnah Cirebon. Ini belum termasuk kelompok salafi yang telah di-tahdzir (diberi peringatan oleh ustadz mereka) dan kemudian bertaubat, tetapi tidak bergabung dengan salafi "asli" dan membentuk kelompok-kelompok sendiri.
          Jadi, Salafy mana yang kita pilih? Jika memang Salafy adalah satu-satunya Thaifah Manshurah, mengklaim sebagai golongan yang selamat, ittiba’ sunnah, anti bid’ah dan kesesatan, lalu di Salafy mana kita harus “mempertaruhkan harapan surga dan selamat dari kesesatan?”


[1] Abu Abdirrahman ath-Thalibi, Dakwah Salafiyah Dakwah Bijak (Jakarta, Hujjah Press, 2006) hlm. 10.
[2] Ibid, hlm. 14.
[3] Ibid, hlm. 21.

6.  Penutup 
          Tulisan ini hanyalah sejarah ringkas dan sebagian kecil dari ajaran golongan Wahabi serta ketimpangan mereka. Penulis berusaha obyektif dalam memberikan informasi, dengan menukil dari literatur yang ditulis oleh Muhammad ibn Abdul Wahhab sendiri dan para pengikutnya. Juga yang tak kalah otentiknya adalah sejarah yang ditulis oleh dua orang mufti Makkah Syekh Ahmad Zaini Dahlan dan Syekh Muhammad ibn Humaid an Najdi. Meskipun ringkas, penulis berharap tulisan ini dapat memberikan pencerahan dan gambaran siapakah Muhammad ibn Abdul Wahhab dan golongan Wahabi yang ia rintis.
          Apa yang kami kemukakan di atas bukanlah usaha untuk memecah belah umat. Justru hal tersebut adalah ajakan untuk mempersatukan umat dalam aqidah yang benar dan mewaspadai golongan-golongan yang berusaha menjauhkan umat dari aqidah yang benar. Akankah terjalin persatuan dengan orang yang mengkafirkan kita dan menuduh apa kita lakukan adalah syirik dan menyesatkan?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar