كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَوْ ءَامَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ مِنْهُمُ Perpuse Peparing hadirkan artikel-artikel faktual sebagai counter attack atas maraknya propaganda murahan yang salah kaprah akan islam dimedia-media online oleh firqoh-firqoh minoritas sempalan yang dapat memecah belah ummat islam seperti wahabi, syiah dan semacamnya juga sebagai media share demi kelestarian nilai-nilai ajaran Ahlussunnah Wal Jama'ah yang asli dan murni di belahan bumi manapun Terima kasih atas kunjungan anda semoga isi dari blog saya yang sederhana ini semoga dapat bermanfaat untuk merekatkan ukhuwah islamiyah dan jangan lupa kembali lagi yah

Jumat, 04 November 2011

Beberapa macam inovasi amaliyah dalam perkara ibadah beserta dalilnya (Bid'ah Hasanah)



Beberapa macam inovasi amaliyah dalam perkara ibadah yang di legitimasi beserta dalilnya

"BID'AH"
khususnya "Bid'ah Hasanah", kata ini selalu hangat dan aktual utk di bicarakan dan lagi tak akan pernah selesai utk di bahas, kenapa.... ???

Karena hal ini banyak terjadi INOVASI AMALIAH masyarakat muslimin yg tercover dlm bingkai bid'ah hasanah & juga karena adanya "KELOMPOK MINORITAS ISLAM" yang sangat kencang menyuarakan tidak adanya bid'ah hasanah alias menolaknya, karena ketidak pahaman mereka akan memahami suatu hadits, akhirnya kontroversi bid'ah hasanah ini selalu aktual untuk di kaji, toh walaupun sebenarnya masalah khilafiyah tentang pembagian bid'ah menjadi dua antara "bid'ah hasanah" & "bid'ah dholalah" tidak perlu terjadi, karena di samping bermacam-macam dalil dari hadits yg menunjukkan adanya bid'ah hasanah sudah cukup banyak & sangat kuat, juga karena konsep inovasi amaliyah dalam perkara ibadah (bid'ah hasanah) telah ada & sudah di akui sejak generasi sahabat khulafa'ur rasyidin & juga pada masa generasi setelah sahabat bahkan pada masa Rasulullah Saw pun..Namun apa boleh buat kelompok yg anti bid'ah hasanah tidak bosan, tidak capek membahas masalah bid'ah ini dg berbagai alasan yg tidak masuk akal karena hawa nafsu mereka semata..

Kali ini saya langsung aja tanpa basa-basi akan menunjukkan beberapa macam inovasi baru yg baik dalam perkara ibadah sejak zaman Rasulullah, karena pembahasan seputar bid'ah & definisinya sudah banyak di kupas oleh teman-teman yg lainnya, mulai di kupas dari beberapa macam fan ilmu, baik dari sisi ilmu lughot, ilmu alat, ilmu hadits..

1). Pada masa Rasulullah

Wa an Sayyidina Ali Kw qola : "
kaana abu bakrin yukhofitu bi shoutihi idzaa qoro'a wa kaana umaru yajharu bi qiroo'atihi wa kaana ammaru idzaa qoro'a ya'khudu min haadzihis suuroti wa haadzihis suuroti fa dzukiro dzaalika lin nabiyyi saw fa qoola li abi bakrin: (lima tukhoofitu ?) qoola: inni usmi'a man unaajii wa qoola li umaro: (lima tajharu bi qiroo'atika ?) qoola: ufzi'us syaithona wa 'uuqidzul wasnana wa qoola li ammar: (lima ta'khudu min haadzihis suroti wa haadzihis surot ?) qola: atasma'unii akhlithu bihi maa laysa minhu ? qoola (LA) tsumma qöola: (FA KULLUHU TOYYIB). [Rowahu Ahmad], Qoola Al-Hafizh Al-Haitsami fii Majmu' Az-Zawaa'id juz 2 shohifah 544

Sayyidina ali ra berkata: Abu bakar bila membaca Al-Qur'an dg suara lirih, sedangkan Umar dg suara keras, dan Ammar apabila membaca Al-Qur'an, mencampur surah ini dg surah itu, kemudian hal itu di laporkan kpd Nabi saw sehingga beliau bertanya kpd Abu bakar: ("mengapa engkau membaca dg suara lirih?") ia menjawab: "Allah dpt mendengar suaraku walaupun lirih", lalu bertanya kpd Umar: ("mengapa kamu membaca dg suara keras?") Umar menjawab: "aku mengusir syetan dan menghilangkan kantuk", lalu beliau bertanya kpd Ammar: ("mengapa kamu mencampur surah ini dg surah itu") Ammar menjawab: "apakah engkau pernah mendengarku mencampurnya dg sesuatu yg bukan dari Al-Qur'an?" Beliau menjawab: "TIDAK", lalu beliau berkata: "SEMUANYA BAIK" [HR Ahmad], Al-Hafizh Al-Haitsami di dalam kitabnya Majmu' Az-Zawaa'id juz 2 halaman 544

Inilah inovasi baru dalam perkara ibadah yg masyhur pada masa beliau masih ada..Hadits ini menunjukkan bolehnya membuat inovasi baru dlm agama alias bid'ah hasanah, ke 3 sahabat itu mlakukan ibadah dg caranya sendiri berdasarkan ijtihad masing2, sehingga sahabat yg lain melaporkan cara ibadah mreka ber 3 yg berbeda-beda kpd Rasul, dan ternyata beliau membenarkannya & menilai smuanya baik, dam kalaupun seandainya perkataan beliau (Rasul) tentang semua bid'ah itu sesat semua, pastinya beliau akan menegur mereka dg berkata "mengapa kalian membuat cara baru dalam perkara ibadah sebelum kalian bertanya kepadaku... ???" tapi kan kenyataannya tidak, bahkan Rasulullah Saw sendiri membenarkannya bahkan juga berkata "FA KULLUHU TOYYIB/SEMUANYA BAIK"

2). Pada masa setelah Rasulullah wafat/Khulafa'ur Rasyidin

A. Penghimpunan Al-Qur'an dalam mushaf

"Jaa'a Sayyidina Umar bin Khottob Ra, Ila Sayyidina Abi Bakrin Ra, yaquulu lahu: ya kholifata Rasulillah Saw, arool qotla qodistaharro fil qurro'i falau jama'tal qur'aana  fi mushafin fayaquulul kholiafatu : kaifa naf'alu syai'an  lam yaf'alhu Rasulullahi Saw ?, fayaqulu Umaru: innahu wallahi khoirun walam yazal bihii hatta qobila fa yab'atsaani ila Zaidi bni Tsabit Ra, fayaquulaani lahu dzalik fayaquulu : kaifa taf'alaani syai'an lam yaf'alhu ya Rasulallah Saw ?, fa yaquulaani lahu: innahu khoirun fala yazaalaani bihi hatta syarohallahu shodrohu kama syaroha shodro Abi Bakrin wa Umaro Radiyallahu anhuma. (Rowahul Bukhori)

''Sayyidina Umar Ra, mendatangi khalifah Abu Bakar Ra, dan berkata : ''Wahai khalifah rasulullah SAW saya melihat pembunuhan dalam peperangan Yamamah telah mengorbankan para penghafal al-qur'an, bagaimana kalau anda menghimpun Al-Qur'an dalam satu mushaf?'' Khalifah menjawab: ''bagaimana kita akan melakukan sesuatu yang belum di lakukan oleh Rasulullah Saw?'' Umar berkata: ''DEMI ALLAH INI BAIK'. Umar terus meyakinkan Abu Bakar, sehingga Abu Bakar menerima usulan Umar. Kemudian keduanya menemui Zaid bin Tsabit Ra, dan menyampaikan tentang rencana mereka kepada Zaid, Ia menjawab: ''bagaimana kalian akan melakukan sesuatu yang belem pernah dilakukan oleh Rasulullah Saw?'' Keduanya menjawab: ''DEMI ALLAH INI BAIK'. Keduanya terus meyakinkan Zaid, hingga akhirnya Allah melapangkan dada Zaid sebagaimana telah melapangkan dada Abu bakar dan Umar dalam rencana ini'. (HR al- Bukhari).

Sayyidina Umar mengusulkan penghimpunan Al-Qur'an dalam satu mushaf. Abu Bakar mengatakan, bahwa hal itu belum pernah dilakukan Rasulullah SAW. Tetapi Umar meyakinkan Abu Bakar,  bahwa hal itu tetap baik meski belum pernah di lakukan oleh Rasulullah Saw. Dengan demikian, tindakan beliau ini tergolong bid'ah. Dan para ulama sepakat bahwa menghimpun Al-Qur'an dalam satu mushaf hukumnya wajib, meski termasuk bid'ah, agar Al-Qur'an tetap terpelihara. Oleh karena itu menghimpun al- qur'an ini termasuk bid'ah hasanah yang wajibah.
Apakah wahhabi berani MENUDUH SESAT para Khulafa'ur Rasyidin yang telah melakukan INOVASI BARU... ????

B. Sholat Tarawih

"An Abdirrohmani bni Abdil Qoriyyi annahu qola:  khorojtu ma'a Umaro bni Khottob Ra. lailatan fii romadhoona ilal masjidi faidzan_naasu auzaa'un mutafarriquuna yushollir_rojulu linafsihi wa yusholli ar_rojulu bi sholaatihir_rohthu fa qoola Umaru Ra : inni aroo lau jama'tu haa' ulaa'i ala qoori'in waahidin lakaana amtsaala tsumma 'azama fa jama'ahum 'ala Ubayyi bni Ka'bin tsumma khorojtu ma'ahu lailatan ukhro wan naasu yusholluuna bi sholati qoori'ihim qoola Umaru : NI'MATIL BID'ATU HADZIHI wal latii naamuu anhaa afdholu minal latii yaquumuuna yuriidul 'aakhirol laili wa kaanan_naasu yaquumuuna awwalahu. (Rowahul Bukhori wa Malik)

''Abdurrahman bin Abdil Al-Qori berkata: ''suatu malam di bulan ramadhan aku pergi ke masjid bersama Umar bin Khattab. Ternyata orang-orang di masjid berpencar-pencar dalam suatu kelompok. ada yang sholat sendirian, Ada juga yang sholat menjadi imam beberapa orang. Lalu Umar Ra. berkata: ''Aku berpendapat andaikan mereka aku kumpulkan dalam satu imam, tentu akan lebih baik. Lalu beliau mengumpulkan mereka pada Ubay bin Ka'ab. Malam berikutnya, aku ke masjid lagi bersama Umar bin Khattab, dan mereka melaksanakan sholat bermakmum pada seorang imam. Menyaksikan hal itu, Umar berkata: ''sebaik-baik bid'ah adalah ini. Tetapi menunaikan sholat di akhir malam, lebih baik dari pada di awal malam''. Pada waktu itu, orang-orang menunaikan tarawih di awal malam. ( HR. Bukhari & Imam Malik)

Rasulullah Saw. tidak pernah menanjurkan sholat tarawih berjama'ah. beliau hanya melakukannya beberapa malam, kemudian meninggalkannya. Beliau tidak melakukannnya secara rutin stiap malam, Tidak pula mengumpulkan mereka untuk melakukannya. Demikian pula pada msa khalifah Abu Bakr RA. Kemudian Umar RA. mengumpulkan mereka untuk melakukan sholat tarawih pada seorang imam, dan menganjurkan mereka untuk melakukannya. Apa yang beliau lakukan ini tergolong bid'ah. Tetapi bid'ah hasanah, karena itu beliau mengatakan: '' sebaik-naik bid'ah adalah ini''. Dan inilah bentuk inovasi baru yg paling masyhur, Pada hakekatnya, apa yang beliau lakukan ini termasuk sunnah, karena Rasulullah SAW bersabda:
"Qoola Rasulullahi Saw. (fa'alaikum bi sunnatii wa sunnatil Khulafaa'ir Rasyidinal mahdibiina)"

Rasulullah Saw bersabda: ''berpeganglah dengan sunnahku dan sunnah khulafa'ur rasyidin yang memperoleh petunjuk''

C. Redaksi Sholawat Nabi

Syaikh ibn Qayyim Al- Jauziyah, murid terdekat Syaikh Ibn Taimiyah, dan salah satu ulama otoritatif di kalangan kaum wahhabi, meriwayatkan beberapa redaksi shalawat nabi SAW yang di susun oleh para sahabat dan ulama salaf, dalam kitabnya "jala' al-afham fi al-shalat wa al salam 'ala khair al-anam Saw" Antara lain shalawat yang di susun oleh Abdullah bin mas'ud RA. berikut ini: "Allahumaj'al sholawaatika wa rohmataka wa barookatika 'ala Sayyidil Mursalin wa Imamil Muttaqiin wa khotamin Nabiyyin Muhammadin 'Abdika wa Rasulika imamil khoir wa qoidil khoiri wa rasulir_rohmati, Allahummab'atshu maqooman mahmuudan yabgituhu bihil awwaluuna wal 'aakhiruuna". (Syaikh ibn Qoyyim, Jala'ul Afham, Shohifah 36)

Syaikh ibn Qayyim Al-Jauziyah juga meriwayatkan redaksi sholawat Sayyidina Abdullah bin Abbas Ra. berikut ini: "Allahumma taqobbal syafaa'ata Muhammdil Kubro warfa' darojaatahul ulyaa wa_a'tihi su' lahu fil 'aakhiroti wal uula kamaa 'aatiita Ibroohima wa Muusa". (Syaikh ibn Qoyyim, Jala'ul Afham, Shohifah 76)

Syaikh ibn Qayyim juga meriwayatkan redaksi yang di susun oleh Al-Imam ' Al-Oomah Ra, seorang tabi'in, sebagai berikut: "Shallallahu wa malaa'ikatahu 'ala Muhammadin assalaamu' alaika ayyuhan Nabiyyu wa rohmatullahi wa barokaatuhu". (Syaikh ibn Qoyyim, Jala'ul Afham, Shohifah 75)

Syaikh ibn Qayyim Al- Jauziyah juga meriwayatkan redaksi yang di susun oleh Al- Imam Syafi'i Ra, sebagai berikut: "Shallallahu 'ala Muhammadin adada maa dzakarohu dzikruna wa adada ma ghofala an dzikrihil ghoofilun". (Syaikh ibn Qoyyim, Jala'ul Afham, Shohifah 23)

Demikian beberapa redaksi sholawat Nabi Saw disusun oleh para sahabat dan ulama salaf yang diriwayatkan oleh Syaikh ibn Al-Qayyim dalam kitabnya Jala'ul Ahfam. Hal tersebut yang menjadi inspirasi bagi para ulama yang menyusun beragam redaksi sholawat, sehingga lahirlah sholawat nariyah, apakah wahhabi berani menuduh Abdullah bin Abbas telah membuat inovasi baru dg merubah redaksi sholawat....?????

3). Pada masa setelah generasi sahabat

Inovasi baru dalam perkara ibadah yang paling masyhur pada masa setelah generasi sahabat yaitu yg di lakukan oleh Al-Imam Al-Hafizh Ahmad bin Hanbal adalah mendoakan gurunya dalam sholat sebagaimana yg telah di riwayatkan oleh Al-Hafizh Al-Baihaqi berikut ini : "Qola Al-Imamu Ahmadu bnu Hanbal: "inni la_ad'uullah lis Syafi'i fii sholatii mundzu arba'ina sanatan, aqulu: Allahumma ghfir lii wa liwaa lidayya wa li Muhammadi bni Idris As-Syafi'i" (Al-Hafizh Al-Baihaqi, Manaqib Al-Imam As-Syafi'i juz 2 shohifah 254)
"Al-Imam Ahmad bin Hanbal berkata: saya mendoakan Imam Syafi'i dlm sholat saya selama 40 tahun, saya berdoa: Ya Allah ampunilah kedua orang tuaku & Muhammad bin Idris As-Syafi'i/Imam Syafi'i..

Doa seperti itu pastinya tdk pernah di lakukan oleh Rasulullah Saw, akan tetapi kenapa Imam Ahmad bin Hanbal melakukannya dan yg paling parah selama 40 tahun... ?????? Apakah kalian berani berkata kpd Imam Ahmad bin Hanbal sesat.... ?????

Sebetulnya masih banyak lagi ragam inovasi baru mulai zaman Rasulullah Saw sampai generasi setelah sahabat seperti : menambah bacaan dzikir dalam iftitah & dzikir dalam i'tidal ("Robbana walakalhamdu hamdan katsiron thoyyiban mubaarokan fiih"), dan menambah adzan jum'at ketiga pada pada masa kholifah Utsman bin Affan, dan sholat sunnah sebelum sholat ied & sesudahnya, dan lagi, menambah bacaan talbiyah dg membaca "labbaika labbaika wa sa'daika wal khoiru bi yadaika labbaika war roghbaa'u ilaika wal amal", dan pemberian titik dalam penulisan mushaf Al-Qur'an yg di lakukan oleh seorang tabi'in Al-Imam Ibn Abi Daud As-Sijistani, dan masih banyak lagi...


Demikian aja dulu, semoga bermanfaat..

By : Peparing E' Illahi


4 komentar:

  1. 3 sahabat itu sudah mendapatkan penilaian dari rasul, sudah rasul saksikan sendiri dan membenarkan..

    nah kalau kita??? membuat hal yg baru dlm ibadah, dan belum mendapat penilaian dr rasul, tetapi sudah menganggap hal itu baik..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ini ciri2 orang fanatik, jadi biar di kasih masukan yang logis, ya tetep ngeyel.memang kalau sudah dasarnya ga seneng, dan sudah terdoktrin ya sulit di kasih pemahaman.cobalah di baca pelan pelan,singkirkan dulu rasa fanatisme anda,cobalah belajar berdiri di tengah2.insyaalloh akan berbeda komentar anda.jangan mendebat dulu.tapi pahami kata perkata yg di tulis.jgn pakai emosi tapi coba pakai hati.belajar untuk tidak berdiri di satu sudut,sbb masih banyak sudut yang lain, agar kita tidak menjadi orang yang pathok bangkrong(orthodox) Gitu men....santai aja!!!!!!!

      Hapus
  2. Antum lihat dulu apa itu definisi bid'ah yg di sabdakan Rasul, gag mungkin klo beliau mencabut tentang definisi bid'ah klo lah mank semua bid'ah itu sesat pastilah klo mank sesat Rasul pun tdk akan membenarkan perbuatan inovasi baru yg di lakukan oleh ketiga sahabat tsb.. !!?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kok pake antum-antuman segala sih, biasa aja keles! !! Lagian kaya kita orang arab aja! !!sok ngarab, nama kalau ga dikasih abu depannya ga di akui, udahlah santai aja men!!!wong kita ini wong jowo,ga usahlah sok ngarab, pake bilang antum2 segala.bilanag aja koen, inyong, atau lu gua, kan lebih enak kang abu warnoto! !!!! Haha ha

      Hapus