كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَوْ ءَامَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ مِنْهُمُ Perpuse Peparing hadirkan artikel-artikel faktual sebagai counter attack atas maraknya propaganda murahan yang salah kaprah akan islam dimedia-media online oleh firqoh-firqoh minoritas sempalan yang dapat memecah belah ummat islam seperti wahabi, syiah dan semacamnya juga sebagai media share demi kelestarian nilai-nilai ajaran Ahlussunnah Wal Jama'ah yang asli dan murni di belahan bumi manapun Terima kasih atas kunjungan anda semoga isi dari blog saya yang sederhana ini semoga dapat bermanfaat untuk merekatkan ukhuwah islamiyah dan jangan lupa kembali lagi yah

Kamis, 09 Februari 2012

LEGALITAS ANEKA REDAKSI SHOLAWAT



"Innallaha wa mala'ikatahu yusholluna alan nabi, ya ayyuhalladziina aamanuu shollu alaihi wa sallimu tasliima"

Allah berfirman :
“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya”. (QS. Al-Ahzab : 56)

Dalam ayat tersebut, Allah menyebutkan berbagai keutamaan Rasulullah. Allah memuji Rasulullah, menaikkan derajatnya di atas semua Nabi dan Rasul. Demikian juga dengan para malaikat, mereka memuji dan mengagungkan Rasulullah. Allah juga memerintahkan orang-orang mukmin untuk menjaga adab dengan Rasulullah dan menghormatinya dengan cara bershalawat kepadanya.

Makna Shalawat.

Shalawat secara bahasa dari kata shalat yang berarti do’a, permohonan ampun, rahmat dan pujian. Sehingga, ibadah shalat disebut dengan shalat karena di dalamnya terdapat berbagai doa dan ungkapan permohonan ampun. Demikian juga dengan shalawat, maknanya adalah pujian, rahmat, doa dan ampunan yang ditujukan kepada Rasulullah, Dalam ayat di atas disebutkan bahwa Allah, para Malaikat dan umat manusia bershalawat kepada Rasulullah. Lalu, apakah makna masing-masing shalawat tersebut?

1. Shalawat dari Allah.
    Makna Allah bershalawat kepada Rasulullah adalah bahwa Allah memuji dan melimpahkan rahmat-Nya kepada Rasulullah. Juga berarti bahwa Allah memberikan penghormatan kepada Rasulullah. Shalawat dari Allah menunjukkan betapa Allah memuji Rasulullah, meninggikan derajat Rasulullah di atas para Rasul dan Nabi lainnya, serta memberikan kedudukan dan tempat yang mulia di sisi-Nya.

    2. Shalawatnya Malaikat.
      Maknanya adalah para malaikat mendoakan Rasulullah dan memohon ampunan untuk umatnya. Para malaikat juga memuji Rasulullah dengan puji-pujian yang menunjukkan keagungan dan kemuliaan Rasulullah di sisi Allah.

      3. Shalawat dari manusia kepada Rasulullah.
        Ketika kita membaca shalawat untuk Rasulullah, artinya kita memohon agar Allah memberikan penghormatan yang layak kepada Rasulullah. Bukan karena Rasulullah membutuhkan doa dari kita, tetapi justru dengan membaca shalawat kita-lah yang akan mendapatkan balasannya dari Allah. Manfaat dan faedah sholawat akan kembali kepada kita sendiri.

        Hukum-hukum berhubungan dengan shalawat.

        1.Hukum dasar membaca sholawat.
          Dalam ayat di atas, Allah memerintahkan kita untuk bershalawat kepada Rasulullah. Pada dasarnya, setiap perintah adalah wajib hukumnya. Membaca shalawat adalah perintah dari Allah kepada orang-orang yang beriman. Oleh karena itu, para ulama bersepakat bahwa hukum membaca shalawat adalah wajib sekali seumur hidup. Inilah hukum dasar shalawat.

          2.Membaca shalawat dalam shalat.
            Ketika shalat, membaca shalawat dalam tasyahud akhir merupakan salah satu rukun qauli. Artinya, membaca shalawat pada waktu tasyahhud (tahiyyat) akhir adalah wajib hukumnya. Sehingga jika pada waktu tasyahud akhir kita tidak membaca shalawat, maka shalatnya tidak sah.

            3.Membaca shalawat dalam setiap kesempatan atau ketika mendengar nama Rasulullah.
              Menurut jumhur ulama, shalawat adalah ibadah yang sunnah dilakukan dalam setiap saat khususnya ketika mendengar nama Rasulullah disebut. Sehingga, para ulama menganjurkan untuk memperbanyak bacaan shalawat di dalam setiap kesempatan.

              Lafadz/redaksi shalawat dan salam atas Rasulullah.

              Banyak sekali riwayat  yang menjelaskan tentang lafadz (redaksi) shalawat dan salam atas Rasulullah. Lafadz (redaksi)-nya pun bermacam-macam, ada yang pendek dan ada yang panjang. Hal ini menunjukkan cara kita bershalawat tidaklah terbatas. Artinya, shalawat dan salam atas Rasul bebas menggunakan lafadz (redaksi) yang bermacam-macam dan tidak harus terbatas pada salah satu jenis saja. Sebab, shalawat dan salam yang ditujukan kepada Rasulullah merupakan untaian pujian dan penghormatan kepada beliau.

              Namun akhir belakangan ini ada segelintir golongan, sebut saja langsung Salafy Wahhabi yang yg mempermasalahkan bermacam redaksi sholawat, mulai dari sholawat nariyah, thibbil qulub, sholawat fatih dll atau ada yg mempermasalahkan pengucapan kata "SAYYIDINA", dengan berbagai alasan yg menurut saya tdk ilmiyyah sekali, mulai dari alasan bid'ah, lalu bagaimana dengan hadits yang menjelaskan larangan mengucapkan sayyidina di dalam shalat? seperti hadits ini لَا تُسَيِّدُونِي فِي الصَّلَاةِ “Janganlah kalian mengucapakan sayyidina kepadaku di dalam shalat”

              Ungkapan ini memang diklaim oleh sebagian golongan sebagai hadits Nabi SAW. Sehingga mereka mengatakan bahwa menambah kata sayyidina di depan nama Nabi Muhammad SAW adalah bid’ah dhalalah, bid’ah yang tidak baik.

              Akan tetapi ungkapan ini masih diragukan kebenarannya. Sebab secara gramatika bahasa Arab, susunan kata-katanya ada yang tidak singkron. Dalam bahasa Arab tidak dikatakan   سَادَ- يَسِيْدُ , akan tetapi سَادَ -يَسُوْدُ  , Sehingga tidak bisa dikatakan  لَاتُسَيِّدُوْنِي

              Oleh karena itu, jika ungkapan itu disebut hadits, maka tergolong hadits maudhu’. Yakni hadits palsu, bukan sabda Nabi, karena tidak mungkin Nabi SAW keliru dalam menyusun kata-kata Arab. Konsekuensinya, hadits itu tidak bisa dijadikan dalil untuk melarang mengucapkan sayyidina dalam shalat?

              Kata-kata “sayyidina” atau ”tuan” atau “yang mulia” seringkali digunakan oleh kaum muslimin, baik ketika shalat maupun di luar shalat. Hal itu termasuk amalan yang sangat utama, karena merupakan salah satu bentuk penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW. Syeikh Ibrahim bin Muhammad al-Bajuri menyatakan: 
              الأوْلَى ذِكْرُالسَّيِّادَةِ لِأنَّ اْلأَفْضَلَ سُلُوْكُ اْلأَدَ بِ
              “Yang lebih utama adalah mengucapkan sayyidina (sebelum nama Nabi SAW), karena hal yang lebih utama bersopan santun (kepada Beliau).” (Hasyisyah al-Bajuri, juz I, hal 156).

              Pendapat ini didasarkan pada hadits Nabi SAW:

              عن أبي هريرةقا ل , قا ل ر سو ل الله صلي الله عليه وسلم أنَا سَيِّدُ وَلَدِ آدَمَ يَوْمَ القِيَامَةِ وَأوَّلُ مَنْ يُنْسَقُّ عَنْهُ الْقَبْرُ وَأوَّلُ شَافعٍ وأول مُشَافِعٍ
              Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Saya adalah sayyid (penghulu) anak adam pada hari kiamat. Orang pertama yang bangkit dari kubur, orang yang pertama memberikan syafaa’at dan orang yang pertama kali diberi hak untuk membrikan syafa’at.” (Shahih Muslim, 4223).

              Hadits ini menyatakan bahwa nabi SAW menjadi sayyid di akhirat. Namun bukan berarti Nabi Muhammad SAW menjadi sayyid hanya pada hari kiamat saja. Bahkan beliau SAW menjadi sayyid manusia didunia dan akhirat. Sebagaimana yang dikemukakan oleh sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki al-Hasani:

              “Kata sayyidina ini tidak hanya tertentu untuk Nabi Muhammad SAW di hari kiamat saja, sebagaimana yang dipahami oleh sebagian orang dari beberapa riwayat hadits 'saya adalah sayyidnya anak cucu adam di hari kiamat.' Tapi Nabi SAW menjadi sayyid keturunan ‘Adam di dunia dan akhirat”. (dalam kitabnya Manhaj as-Salafi fi Fahmin Nushush bainan Nazhariyyah wat Tathbiq, 169)

              Ini sebagai indikasi bahwa Nabi SAW membolehkan memanggil beliau dengan sayyidina. Karena memang kenyataannya begitu. Nabi Muhammad SAW sebagai junjungan kita umat manusia yang harus kita hormati sepanjang masa.

              Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa membaca sayyidina ketika membaca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW boleh-boleh saja, bahkan dianjurkan.

              Lalu mengenai redaksi sholawat nabi seperti sholawat nariyah, thibbil qulub, sholawat fatih & sejenisnya mengapa mereka Salafy Wahhabi sangat membencinya ?

              Lalu bagaimna dg redaksi sholawat nabi yg di riwayatkan murid kesayangan Syaikh Ibn Taimiyah yg bernama Syaikh Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah salah satu ulama' otoritatif kaum salafy wahhabi dlm kitabnya "Jala' al-afham fi sholati was salam ala khoiril anam", yg di antaranya seperti redaksi sholawat yg di susun oleh para sahabat & ulama' salaf salah satunya oleh Abdullah bin Mas'ud Ra berikut : "Allahumaj'al sholawaatika wa rohmataka wa barookatika 'ala Sayyidil Mursalin wa Imamil Muttaqiin wa khotamin Nabiyyin Muhammadin 'Abdika wa Rasulika imamil khoir wa qoidil khoiri wa rasulir_rohmati, Allahummab'atshu maqooman mahmuudan yabgituhu bihil awwaluuna wal 'aakhiruuna". (Syaikh ibn Qoyyim, Jala'ul Afham, Shohifah 36)


              Syaikh ibn Qayyim Al-Jauziyah juga meriwayatkan redaksi sholawat Sayyidina Abdullah bin Abbas Ra. berikut ini: "Allahumma taqobbal syafaa'ata Muhammdil Kubro warfa' darojaatahul ulyaa wa_a'tihi su' lahu fil 'aakhiroti wal uula kamaa 'aatiita Ibroohima wa Muusa". (Syaikh ibn Qoyyim, Jala'ul Afham, Shohifah 76)
              Syaikh ibn Qayyim juga meriwayatkan redaksi yang di susun oleh Al-Imam ' Al-Oomah Ra, seorang tabi'in, sebagai berikut: "Shallallahu wa malaa'ikatahu 'ala Muhammadin assalaamu' alaika ayyuhan Nabiyyu wa rohmatullahi wa barokaatuhu". (Syaikh ibn Qoyyim, Jala'ul Afham, Shohifah 75)
              Syaikh ibn Qayyim Al- Jauziyah juga meriwayatkan redaksi yang di susun oleh Al- Imam Syafi'i Ra, sebagai berikut: "Shallallahu 'ala Muhammadin adada maa dzakarohu dzikruna wa adada ma ghofala an dzikrihil ghoofilun". (Syaikh ibn Qoyyim, Jala'ul Afham, Shohifah 23)
              Demikian beberapa redaksi sholawat Nabi Saw disusun oleh para sahabat dan ulama salaf yang diriwayatkan oleh Syaikh ibn Al-Qayyim dalam kitabnya Jala'ul Ahfam. Hal tersebut yang menjadi inspirasi bagi para ulama yang menyusun beragam redaksi sholawat, sehingga lahirlah sholawat nariyah, apakah wahhabi berani menuduh Abdullah bin Abbas telah membuat inovasi baru dg merubah redaksi sholawat....????

              SEMOGA BERMANFAAT.

              By : Peparing E' Illahi



              3 komentar:

              1. Assalamualaikum,
                salam kenal.
                blog yg sgt bermanfaat,

                jika saudaraku berkenan tuk sekedar menukar link,
                monggo, ini blog saya: www.alhijazi.blogspot.com

                Mari bersama brantas wahabeyer,,!!

                BalasHapus
              2. Alhamdulillah.. Insya Allah kami dg senang hati.. ^_^

                BalasHapus